Berawal dari Mencoba, Kini Malah Banyak Laba

  • icon-jam11 Januari 2019
  • icon-share
    Shares

Berawal dari Mencoba, Kini Malah Banyak Laba

Tidak seterusnya keisengan hanya membuang waktu. Dua anak muda yang akan kita bahas mampu menghasilkan pundi-pundi materi lewat kejelian dalam melihat peluang usaha dari hobi dan keadaan hidup. Siapa saja mereka? Yuk kita kenalan!

 

Oky Wardhana

 

Bagi kalangan komunitas sepeda motor, helm kustom mampu melengkapi gaya para pengendaranya. Oky yang menyukai hobi motor klasik awalnya iseng membuat helm sendiri karena minimnya helm keluaran pabrik yang cocok ia kenakan. Dari situlah di tahun 2015, Oky terinspirasi menciptakan helm berkonsep retro bernama “Trooper”.

 

Meski tak berlatar belakang sebagai pengusaha, Oky menerapkan ilmu desain grafis semasa berkuliah untuk berbisnis merancang beberapa helm yang kemudian dijual ke media sosial serta target konsumen utamanya yaitu pecinta motor klasik. Ketekunannya memperoleh sambutan positif pasar sehingga ia mampu memproduksi 50 sampai 70 helm dengan berbagai model mulai dari half face , full face hingga shorty helmet.

 

Usaha kreatifnya pun mulai berkembang sejak ikut serta di ajang Indonesian Kustom Kulture Festival atau Kustomfest dan lalu mendapat dukungan dari Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf). Pasar “Trooper” telah menembus Amerika Serikat, Eropa, Australia dan Malaysia. Harga produk yang dijual bervariasi mulai dari Rp. 600 ribu sampai Rp. 2 juta. Tertarik?

 

Hamzah Naufal

Kreativitas biasanya timbul saat kita berada dalam keadaan terdesak. Ketika Hamzah tak memiliki pekerjaan, ia mengikuti sebuah pelatihan sepatu yang memancingnya mempunyai bisnis sendiri bermodal Rp. 1,5 juta untuk membuat sepatu vintage “Brygan Shoes”. Hamzah berkiblat pada model sepatu Inggris dan Italia yang dikenal amat detail menggunakan dua jenis bahan yaitu kulit sapi asli dan semi kulit asli berkualitas baik.

 

Meski lokal, pemuda ini menjunjung tinggi profesionalitas kerja dengan sangat memperhatikan prosesnya mulai dari pengemasan sol, cutting hingga jahitan. Wah kalau kulit berarti mahal dong? Harga penawarannya cuma berkisar dari Rp 200 ribu – Rp. 500 ribu saja lho. Bisa lebih murah sebab produksi sepatu dilakukan di pabrik sendiri dan bukan memakai mesin, alias handmade.

 

Selain itu, Hamzah tidak mengambil margin keuntungan yang besar. Pertimbangannya ialah supaya orang lebih mengenal merknya, memiliki loyalitas terhadap produk bahkan meningkatkan jumlah pembeli baru. Strategi bisnis ini terbilang sukses. Tiap bulan angka produksi menembus sekitar 1.200 pasang sepatu yang dijual online, offline dan di beragam acara. Hamzah tidak hanya mampu bersaing secara lokal, tapi juga telah menembus pasar Inggris, Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa lewat merek ‘Junkardcompany’ yang berharga Rp. 2 jutaan.

 

Belajar dari Hamzah dan Oky, selalu ada cara agar kita memiliki kehidupan yang lebih baik, salah satunya ialah menginvestasikan waktu dan tenaga guna menggali potensi serta berani mengambil resiko. Kamu sendiri gimana? Apakah kamu punya nyali menembus batas diri seperti mereka?

Written by

Celixa Yovanka

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *