#WMR 11 – 15 Juli 2022

  • icon-jam18 Juli 2022
  • icon-share
    Shares

#WMR 11 – 15 Juli 2022

Highlight

 

IHSG masih dalam tekanan berat dengan koreksi 1,3% dalam menjadi 6.651, begitu pula dengan LQ45 yang turun 2,2% dalam sepekan menjadi 938. Yield dari INDOGB 10 tahun naik 10 bps menjadi 7,36%. Tekanan ini disebabkan oleh inflasi di US yang lebih tinggi dibandingkan perkiraan konsensus. Meskipun demikian nilai tukar Rupiah masih berada pada kisaran Rp15.000/USD.

US mencatatkan inflasi (CPI) sebesar 9,1% yoy, jauh lebih tinggi dibandingkan perhitungan pasar di 8,8% yoy dan bulan sebelumnya 8,6% yoy. Posisi inflasi ini merupakan yang tertinggi 41 tahun terakhir. Secara bulanan inflasi US naik 1,3% mom, melampaui perkiraan konsensus pada 1,1% mom dan bulan Mei di 1,0% mom. Namun inflasi inti sudah mulai melambat dari sebelumnya di 6,0% yoy pada bulan Mei menjadi 5,9% yoy pada bulan Juni 2022. Di sisi lain, US masih mencatatkan inflasi produsen (PPI) yang kuat pada level 11,3% yoy, melampaui bulan Mei 10,9% yoy dan perkiraan pasar yang seharusnya sudah melambat menjadi 10,7% yoy. US Initial jobless claims mencatatkan angka yang terus naik pada posisi 244 ribu. Sekilas dari China, pertumbuhan PDB pada kuartal kedua 2022 hanya tumbuh 0,4% yoy, jauh lebih rendah dari pencapaian kuartal pertama 2022 di 4,8% yoy dan perkiraan pasar 1,0% yoy.

Indonesia mencatatkan neraca dagang bulan Juni 2022 sebesar USD 5,09 milyar, jauh lebih besar dari angka konsensus USD 3,52 milyar dan pencapai bulan sebelumnya USD 2,90 milyar. Pelebaran neraca dagang ini berkat ekspor yang tumbuh 40,68% yoy, jauh melampaui bulan sebelumnya yang hanya tumbuh 27% yoy. Sementara itu, impor Indonesia bertumbuha 21,98% yoy, turun dari bulan sebelumnya yang masih tumbuh 30,74% yoy.

 

Picture of the week

 

 

 

Indonesia kembali mencatatkan surplus dagang besar sebanyak USD 5,09 milyar (Pic 1) dengan kenaikan signifikan dari sisi ekspor, terutama komoditas CPO. Dengan demikian neraca dagang selama 2Q22 berada pada USD 15,55 milyar, jauh dibadingkan dengan USD 9,33 milyar di 1Q22 (perbedaan USD 6,22 milyar). Jika current account to GDP (neraca transaksi berjalan terhadap PDB) pada kuartal pertama 2022 Indonesia masih mampu mencatatkan surplus 0,1%, maka pada kuartal kedua 2022 kemungkinan bisa mencatatkan surplus lebih tinggi. Saat ini pasar sedang menantikan keputusan Bank Indonesia terhadap suku bunga acuan pada minggu ini. Disparitas suku bunga acuan FFR (1,75%) dan BI 7DRRR (3,50%) saat ini pada posisi terendah dengan hanya menyisakan 175 bps (Pic 2). Bila ada penyesuaian moneter dari BI, maka akan memberikan dorongan positif tambahan kepada nilai tukar selain dari sisi neraca dagang dan transaksi berjalan. Posisi ini tentu dapat memberikan dorongan baru bagi kelas asset pendapatan tetap (RD MIDU).

 

Important Date

 

  • Wed, 20 JUL UK: Inflation Jun22
  • Thu, 21 JUL JP: BOJ interest rate decision
  • Thu, 21 JUL ID: BI 7D RRR
  • Thu, 21 JUL EU: ECB interest rate decision

 


 

Produk 6M Performance YTD Performance
JCI -0,6% +1,1%
LQ45 -1,5% +0,8%
Saham
MITRA -5,3% -3,5%
MICB -2,0% -0,1%
ASEAN5 -7,0% -6,1%
MGSED -29,7% -35,1%
Pendapatan Tetap
MIDU +0,11% +0,11%
MINION -8,42% -10,17%
MIDO2 -2,12% -2,36%
IDAMAN -6,51% -7,42%

 


Info Lebih Lanjut

Hubungi Mandiri Investasi – (021) 526 3505
Whatsapp Mandiri Investasi – 0816 86 0003
Email Mandiri Investasi – cs@mandiri-investasi.co.id
Mandiri Investasi – www.mandiri-investasi.co.id
Moinves – www.moinves.co.id

 


 

DISCLAIMER

Pendapat yang diungkapkan dalam artikel adalah untuk tujuan informasi umum saja dan tidak dimaksudkan untuk memberikan saran atau rekomendasi khusus untuk individu atau produk keamanan atau investasi tertentu. Ini hanya dimaksudkan untuk memberikan edukasi tentang industri keuangan. Pandangan yang tercermin dalam konten dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan. Seluruh data kinerja dan return investasi yang tertera di artikel ini tidak dapat digunakan sebagai dasar jaminan perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana.

Written by

Willy Gunawan

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *