Monthly Macro Review : Brake for Better Cause

  • icon-jam24 August 2021
  • icon-share
    Shares

Monthly Macro Review : Brake for Better Cause

Selama bulan Juli, pemerintah memberlakukan PPKM level 4 yang disebabkan kenaikan signifikan dari kasus Covid – 19 di Indonesia. Merupakan prioritas utama saat ini bagi seluruh masyarakat bahwa Indonesia harus mempunyai pondasi kesehatan yang kuat sebelum bisa menjalankan perekonomian dengan optimal. Pengorbanan selama sebulan tersebut tidaklah sia – sia karena kasus harian sudah turun dari puncak meskipun sampai pada akhir bulan masih relative tinggi. Kami cukup meyakini bahwa salah satu pencegahan kasus Covid – 19 adalah melalui vaksinasi yang terus berjalan. Pengereman melalui PPKM kali ini lebih ditujukan untuk kepentingan masyarakat yang lebih besar dan Indonesia mampu bertumbuh dengan cepat setelah pengetatan ini selesai.

 

Overview

 

Pada bulan Juli, penyebaran varian delta Covid – 19 di seluruh dunia sangat cepat. Dapat dipahami karena pada bulan Juli merupakan salah satu musim liburan di beberapa negara disamping banyaknya kompetisi olah raga. Maka dari itu kekhawatiran akan gelombang pandemi Covid – 19 meningkat. Untungnya banyak negara DM sudah melakukan vaksinasi yang cukup banyak sehingga dapat mencegah kondisi yang lebih buruk dari masyarakat yang terinfeksi. Hal tersebut dapat dilihat dari tingkat kematian yang rendah dari negara yang memiliki tingkat vaksinasi tinggi dibandingkan negara yang memiliki tingkat vaksinasi yang rendah. Kami melihat dengan naiknya tingkat vaksinasi masyarakat di negara DM terutama di negara produsen vaksin maka penerima pasokan vaksin ke negara EM seperti Indonesia akan lebih banyak.

 

Pada awal bulan, rumah sakit dilaporkan penuh dengan Bed Occupancy Ratio (BOR) nasional mencapai 77%. Selain itu, masyarakat yang terinfeksi mendapatkan kesulitan untuk mendapatkan pasokan oksigen dan obat – obatan. Indonesia mungkin sudah melewati puncak dari kasus harian Covid – 19 di bulan Juli, BOR sudah mulai menurun di akhir bulan menjadi 60% dan akhirnya Indonesia mendapatkan pasokan vaksin yang cukup banyak. Demikian halnya dengan vaksinasi yang terus digenjot menghasilkan peningkatan yang signifikan di bulan Juli. Rata – rata vaksin yang diberikan pada bulan Juni masih di bawah 500 ribu suntikan / hari, namun pada bulan Juli sudah mampu mencapai 791 ribu suntikan / hari. Masyarakat yang sudah mendapatkan suntikan dosis pertama mencapai 22,8% dan dosis ke kedua 9,9% dari target keseluruhan 208,3 juta penduduk yang diharapkan menerima program vaksinasi pemerintah. Kami melihat antuasiasme masyarakat cukup besar untuk menerima vaksinasi karena banyak institusi yang menerapkan vaksinasi menjadi syarat dalam menjalankan operasional kegiatan. Maka dari ini kami melihat Indonesia dapat mengejar tingkat vaksinasi dengan lebih cepat.

 

Indonesia mencatatkan pertumbuhan GDP pada kuartal kedua sebesar 7,1% yoy, lebih tinggi dibandingkan perkiraan konsensus di 6,7% yoy maupun GDP kuartal pertama -0,7% yoy. Dengan kenaikan tersebut nilai nominal GDP Indonesia mencatatkan USD 1.058,42 milyar, hanya sedikit lebih rendah dari GDP 2019 di USD 1.119,09 milyar (94,5%). Semua komponen pembentuk GDP pada kuartal kedua mengalami kenaikan dibandingkan kuartal pertama. Kenaikan besar terlihat pada sisi konsumsi yang naik 5,9% yoy, dibanding kuartal sebelumnya turun 2,2% yoy, karena adanya perayaan Idul Fitri, insentif pemerintah serta pelonggaran batasan aktifitas masyarakat. Kenaikan juga terjadi pada sisi belanja pemerintah 8,1% yoy (vs 2,3% yoy 1Q21), investasi 7,5% yoy (vs -0,2% yoy 1Q21), ekspor 31,8% yoy (vs 7,0% yoy 1Q21) dan impor 31,2% yoy (vs 5,5% yoy 1Q21). Pencapaian baik di kuartal kedua membuktikan bahwa perekonomian sudah pada jalur yang benar. Kami optimis kedepan Indonesia dapat menghasilkan pertumbuhan yang baik bila Covid – 19 sudah lebih terkendali.

 

Yield dari INDOGB 10 tahun di akhir Juli mencapai 6,3% dari 6,6% di bulan sebelumnya, menguat 30 bps. Kami melihat kombinasi usaha antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia menguntungkan bagi obligasi. Kementerian Keuangan mengumumkan akan mempergunakan Saldo Anggaran Lebih (SAL) 2020 dan memperkecil penerbitan obligasi sekitar Rp 200 triliun. Menurut kami, investor dapat melihat ini sebagai signal bahwa supply SBN tidak akan banyak dan yield kemungkin tidak akan naik banyak mengingat INDOGB masih cukup atraktif diantara negara berkembang karena real yield yang tinggi. Selain itu, Bank Indonesia melalukan penurunan penyerapan Open Market Operation (OMO) secara signifikan, maka dari itu bank harus mendapatkan sumber pendapatan lain. Hal tersebut dilakukan untuk mendorong pertumbuhan kredit sehingga diharapkan ekonomi dapat kembali bergairah. Tampaknya usaha tersebut mulai membuahkan hasil dimana pertumbuhan kredit sudah mulai naik namun masih kecil dan bank masih menjadi pembeli utama INDOGB. Sementara itu, yield dari US Treasury menguat seiring dengan naiknya kasus Covid – 19 di dunia yg disebabkan varian delta dan ketakutan akan ekspansi ekonomi yang sudah mencapai puncak sehingga menimbulkan keraguan apakah kebijakan moneter dapat sesuai yang diperkirakan. Yield dari US 10 tahun Treasury menguat 20 bps dari 1,4% di Juni menjadi 1,2% di Juli.

 

Dari saham, IHSG naik beberapa point sementara LQ45 mengalami penurunan. Perbedaan tersebut menunjukan sektor teknologi mampu membawa indeks IHSG untuk bertahan sementara indeks LQ45 yang didominasi saham blue chip berjuang untuk berkinerja baik. Secara umum, kami melihat saham – saham berusaha untuk bertahan karena naiknya kasus Covid – 19 yang pastinya akan berimbas pada kinerja perusahaan. Menurut kami pada valuasi saat ini IHSG pada level mean di 15x PE, sementara LQ45 sudah menyentuh level standard deviasi -1x di 12x PE (vs level mean 14,8x PE).

 

Topic of discussion

  • Inflasi cost – push semakin nyata, namun produsen belum mampu menaikan harga
  • Pengetatan aktifitas melalui PPKM level 4 di bulan Juli membuat PMI Manufacturing dan IKK terpaksa turun sementara
  • Impor menurun karena pemberlakukan PPKM, sementara ekspor masih pada level kuat.
  • Kebijakan moneter berjalan dengan baik meski adanya gangguan Covid – 19
  • Pertumbuhan M2 kembali menguat dan pertumbuhan kredit mengindikasikan adanya perubahan.
  • Penjualan kendaraan cukup bertahan.
  • Kesimpulan dan Rekomendasi.

 

Rekomendasi Produk

 

Saham

 

Pendapatan Tetap

 

Untuk membaca hal-hal yang terjadi di bulan Juli 2021 yang mempengaruhi ekonomi secara makro selengkapnya disini:

Baca Selengkapnya

 


Info lebih lanjut

Hubungi Mandiri Investasi – (021) 526 3505
Mandiri Investasi – www.mandiri-investasi.co.id
Moinves – www.moinves.co.id

 


 

DISCLAIMER

Pendapat yang diungkapkan dalam artikel adalah untuk tujuan informasi umum saja dan tidak dimaksudkan untuk memberikan saran atau rekomendasi khusus untuk individu atau produk keamanan atau investasi tertentu. Ini hanya dimaksudkan untuk memberikan edukasi tentang industri keuangan. Pandangan yang tercermin dalam konten dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan. Seluruh data kinerja dan return investasi yang tertera di artikel ini tidak dapat digunakan sebagai dasar jaminan perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana.

Written by

Willy Gunawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *