Market Commentary – February 2021

  • icon-jam12 Maret 2021
  • icon-share
    Shares

Market Commentary – February 2021

Saham

Global

Risk on adalah cara berinvestasi yang terjadi pada investasi global di bulan Febuari 2021. Investor global masuk besar ke kelas aset saham dengan ekspektasi bahwa pertumbuhan ekonomi global dan laba perusahaan akan naik, terutama dengan adanya paket stimulus USD 1,9 triliun. Menteri Keuangan Amerika Serikat, Janet Yellen, memprediksi bahwa stimulus besar akan membawa Amerika Serikat kembali full employment di tahun 2020. Semua katalis ini membawa harga saham dan komoditas terus tumbuh dalam beberapa minggu terakhir. Inflasi di Amerika Serikat diprediksi akan tumbuh ke depannya. Tetapi kami berpikir the Fed akan terus mempertahankan policy rate dan program pembelian aset saat ini untuk beberapa waktu ke depan. Kami masih melihat peluang pertumbuhan di saham – saham global untuk ke depan dan pemilihan saham yang benar akan menjadi pembeda dalam menentukan kinerja Reksa Dana Mandiri Global Sharia Equity Dollar (RD MGSED).

 

Domestik

IHSG mendapat dampak dari global risk on mode and bertumbuh stabil selama bulan Febuari 2021. Investor global terus melakukan pembelian atas saham – saham global, terutama saham – saham di Amerika Serikat. Estimasi pertumbuhan ekonomi global dan laba korporasi multinasional sedang dalam tren kenaikan, sehingga mengkonfirmasi harapan investor yang membuat harga saham dan komoditas naik banyak dalam beberapa minggu terakhir. Meskipun demikian, kenaikan IHSG belum bisa melewati puncak sebelumnya karena keterbatasan landasan fundamental. Dari gambaran yang lebih luas, pemerintah telah melakukan revisi lebih tinggi untuk dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) secara ekstensif dari Rp 356.2 triliun menjadi Rp 699,4 triliun. Pemerintah melihat pentingnya bantuan ekonomi secara langsung dan berkelanjutan dalam meningkatkan konsumsi masyarakat, dimana dapat menjadi pemicu bagi sektor privat dan investasi langsung dana asing. Kami juga melihat bahwa Bank Indonesia kembali menurunkan suku bunga acuan BI 7D RRR sebanyak 25bps menjadi 3,50% memberi sinyal akan kebijakan moneter yang akomodatif masih terjaga. Bagi investor dengan toleransi risiko yang lebih tinggi dapat memanfaatkan koreksi pada pasar saham untuk menambah porsi alokasi investasi.

 

Rekomendasi Produk

PRODUK 6 MONTHS PERFORMANCE YTD PERFORMANCE
MGSED +9,9% +3,1%
ASEAN5 +10,0% +1,4%
MITRA +15,2% +2,0%

Pendapatan Tetap

Febuari 2021 diselimuti oleh kekhawatiran akan kenaikan suku bunga di Amerika Serikat akibat ekspektasi akan kenaikan inflasi. Proposal paket stimulus ekonomi sebesar USD 1,9 triliun dari presiden Amerika Serikat membuat investor global menjual kelas aset obligasi dan pindah ke kelas aset saham. Menteri Keuangan Amerika Serikat, Janet Yellen, mengatakan bahwa stimulus tersebut dapat mengembalikan US full employment di tahun 2022. Optimisme akan pemulihan yang lebih cepat mengubah minat investor menjadi risk on dimana artinya memiliki aset yang lebih beresiko menjadi masuk akal. Hal tersebut yang membuat US Treasury yield naik terus menerus. Obligasi Indonesia ikut terdampak dan yield obligasi pemerintah 10 tahun naik seketika. Di sisi lain, Bank Indonesia kembali memotong 25bps suku bunga acuan. Hal tersebut diterima sebagai langkah baik oleh pasar dimana inflasi masih rendah dan nilai tukar cukup stabil. Secara bersamaan, Bank Indonesia melakukan pembelian obligasi pemerintah in pasar sekunder untuk menahan kenaikan yield. Kami berpandangan bahwa obligasi Indonesia masih atraktif dari segi spread baik terhadap US Treasury yield atau DM dan juga EM lain.

 

Rekomendasi Produk

PRODUK 6 MONTHS PERFORMANCE YTD PERFORMANCE
MINION -2,77% -1,76%
MIDU +2,75% -0,88%
MIDO2 +2,64% -4,38%
IDAMAN -0,53% -1,13%

Pasar Uang

Bulan Febuari menjadi bulan yang menarik dimana Bank Indonesia kembali menurunkan suku bunga acuan 25 bps. Hal tersebut merupakan penyesuaian pertama kali di tahun 2021, dibandingkan dengan tahun 2020 saat Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan sebanyak lima kali atau 125 bps secara keseluruhan. Meskipun suku bunga acuan turun 125 bps, bunga kredit modal kerja hanya turun 88 bps sementara bunga deposit turun sebanyak 157 bps. Penurunan besar pada bunga deposito karena likuiditas yang besar pada sistem perbankan, sementara penurunan yang lebih kecil pada bunga kredit modal kerja disebabkan karena resiko premium yang lebih tinggi dari sebelumnya. Dengan penurunan suku bunga acuan yang baru saja terjadi, kita akan melihat ruang bagi penurunan bunga deposito terutama pada bank – bank besar.

 

Rekomendasi Produk

PRODUK 6 MONTHS PERFORMANCE YTD PERFORMANCE
MIPU +1,89% +0,58%
MIPU2 +1,24% +0,34%
MPUS +2,08% +0,62%

 


DISCLAIMER

Pendapat yang diungkapkan dalam artikel adalah untuk tujuan informasi umum saja dan tidak dimaksudkan untuk memberikan saran atau rekomendasi khusus untuk individu atau produk keamanan atau investasi tertentu. Ini hanya dimaksudkan untuk memberikan edukasi tentang industri keuangan. Pandangan yang tercermin dalam konten dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan. Seluruh data kinerja dan return investasi yang tertera di artikel ini tidak dapat digunakan sebagai dasar jaminan perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana.

Written by

Willy Gunawan

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *