Market Buzz : Buy When It Dips

  • icon-jam28 Juli 2020
  • icon-share
    Shares

Market Buzz : Buy When It Dips

Back to stocks.

 

Ketika ditanya kepada global equity fund managers apa yang ada dalam benak mereka saat ini? Jika ditanya tentang kesempatan, mereka akan memilih saham yang memiliki pertumbuhan dan ESG, yang berhubungan dengan teknologi, renewable energy, kesehatan, dan lain – lain. Sedangkan, jika ditanya yang paling dihindari adalah seperti real estate, commodities, banks, consumer staples. Sementara itu untuk resiko – resiko yang terjadi saat ini adalah seperti low quality rally, negative rates, second wave covid, inflation dan lain – lain.

 

Informasi seperti itu untuk membuat kita sulit mengambil keputusan.

 

Saat ini memasuki akhir bulan Juli dimana IHSG masih -20% ytd setelah sempat jatuh ke 37% di akhir bulan Maret. Sedangkan kita membandingan dengan index utama dunia dimana S&P pada saat ini sudah sama seperti awal tahun 0% ytd setelah sebelumnya sempat turun ke -30% di akhir bulan Maret.

 

Jika dilihat dari keadaan saat ini, kesempatan untuk mendapatkan asset dengan harga relatif murah masih terbuka lebar terutama terhadap saham – saham berkualitas. Apalagi saham – saham yang merefleksikan keadaan saat ini dimana berhubungan dengan teknologi dan kesehatan.

 

Kami ingin mengajak investor untuk memahami bahwa in the short term the market is like voting machine, in the long term the market is like weighing machine. Pemahaman itu artinya bahwa pada jangka pendek, akan banyak sekali pendapat tentang perusahaan – perusahaan yang mempengaruhi market. Namun melihat jangka panjang maka perusahaan – perusahaan itu akan terus bertumbuh seiring dengan harga saham – sahamnya jika memang bisnis perusahaan itu memang terbukti berjalan baik.

 

Investor dapat melihat bahwa kita sudah melewati periode yang terburuk di kuartal kedua tahun ini. Hal yang lebih buruk jika terjadi serangan gelombang pandemi ini dan perekonomian harus dihentikan kembali. Tetapi, masyarakat sudah bisa lebih menyesuaikan dengan keadaan dan digitalisasi mulai diimplementasi di banyak industry. Kami melihat jika kejadian berikutnya terjadi market tidak akan bereaksi seperti kuartal kedua.

 

Investor lokal bisa melihat bahwa berinvestasi di negara berkembang di Indonesia menjadi sesuatu yang dicari karena saat ini investor global mencari growth dibanding mencari value. Hal tersebut karena saham – saham dengan pertumbuhan yang berkualitas cukup sulit untuk didapatkan dan harga sahamnya bergerak relatif cepat. Meskipun kita belum memiliki perusahaan yang berorientasi pada teknologi dan healthcare, namun berinvestasi dalam kelompok growth tentu tidak mungkin untuk melupakan Indonesia. Meskipun tahun ini, perusahaan – perusahaan kesusahan, namun kedepan banyak investor melihat ini sebagai peluang.

 

Kami memiliki sebuah produk Reksa Dana yang memiliki performance cukup baik karena feature produk yang terdiversifikasi dengan baik. Produk ini berinvestasi 80% pada saham – saham IHSG dan maksimal 15% pada saham di luar Indonesia. Porsi penempatan di luar ini yang membuat Reksa Dana ini dapat outperform 3% lebih baik dibanding dengan benchmark dan Reksa Dana lain di market. Kunci dari keberhasilan ini karena kita ikut berinvestasi pada saham – saham yang sedang bertumbuh cepat Tencent, SEA Ltd., Alibaba, TSMC dan lain – lain. Selain ini, kepemilikan saham – saham tersebut dalam mata uang USD sehingga menambah diversifikasi terhadap fund ini.

 

Sampai pada saat ini, ASEAN5 rebound 17,2% dalam tiga bula terakhir, dimana JCI naik 13,4%. Hal tersebut menunjukan adanya performance ASEAN5 yang lebih baik hampir 4% daripada JCI. Kami merasa cukup optimis hal ini masih akan terus berlanjut pertumbuhannya kedepan.

 

Terima kasih.

Written by

Willy Gunawan

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *