Monthly Macro Review : Policy Intact

  • icon-jam21 April 2022
  • icon-share
    Shares

Monthly Macro Review : Policy Intact

Tepat bulan Maret 2022, Indonesia telah melewati 2 tahun sejak pertama kali virus Covid-19 masuk ke tanah air. Gelombang demi gelombang varian dari virus telah dilewati masyarakat dan semakin lama semakin cepat dapat tertangani. Pandemi ini telah banyak mengubah cara masyarakat melakukan aktifitasnya agar tetap bisa produktif.  Berbagai usaha pemerintah dan bank sentral seluruh dunia termasuk Indonesia menyalurkan kebijakan yang sangat akomodatif dalam dua tahun ini akhirnya membuahkan hasil. Saat ini kita melihat bahwa masyarakat mulai mendapatkan banyak tawaran pekerjaan dan bahkan sedang menghadapi harga jual barang – barang yang tinggi karena permintaan yang naik. Kami lebih melihat masalah inflasi adalah sebuah ‘happy problem” yang kita harus sambut dengan optimisme dan bukan sebaliknya. Karena dengan adanya kenaikan inflasi yang disebabkan oleh permintaan maka akan mendorong orang untuk berpikir kreatif dan memberi peluang untuk berusaha sehingga menciptakan kesempatan bagi masyarakat yang lebih luas. Maka dari itu, menjaga keseimbangan pertumbuhan dan kestabilan menjadi perhatian karena perubahan kebijakan dari yang super akomodatif menjadi lebih moderat memang diperlukan agar pertumbuhan yang stabil dapat berlangsung lebih lama.

 

Overview

Pasar saham dan obligasi Amerika Serikat menyambut baik hasil pertemuan FOMC pada pertengahan bulan Maret. The Fed menaikan suku bunga acuan 25 bps untuk pertama kali sejak 2018 dan kedepan masih berpeluang naik sebanyak 6 kali di 2022 dan 3 kali di 2023. Selain itu, untuk rencana penarikan likuiditas melalui quantitative tightening akan diumumkan pada pertemuan berikutnya di bulan Mei. Berdasarkan Minutes yang dikeluarkan, the Fed kemungkinan besar akan menjual aset yang dimiliki (menarik likuiditas) sebanyak US$ 95 milyar per bulan yang terbagi menjadi US$ 60 milyar US Treasury dan US$ 35 milyar Mortgage Backed Securities. Dengan rencana kenaikan suku bunga acuan dan penarikan likuiditas dari pasar, publik melihat kebijakan the Fed cukup tepat dalam merespon inflasi yang sangat kuat terjadi saat ini. Bila sejumlah pihak mengkhawatirkan permasalahan likuidtas seperti 2019 yang disebabkan oleh quantitative tightening kembali terulang, kami melihat tahun ini the Fed sudah lebih siap menyediakan infrastruktur kebijakannya dan likuiditas yang tersedia masih cukup besar. Kami melihat fokus utama the Fed saat ini adalah menahan kenaikan inflasi yang kemungkinan mencapai puncaknya pada kuartal kedua tahun 2022.

Negara maju pada siklus ekonomi yang mendekati puncak, sementara negara berkembang seperti Indonesia masih berfokus pada siklus awal-menengah. Indonesia cukup beruntung karena inflasi selama 2020 dan 2021 berada rata–rata di bawah 2% meskipun harga komoditas sudah mengalami kenaikan.

Situasi tersebut karena daya beli masyarakat yang belum kuat sehingga pemerintah secara konsisten terus memberikan stimulus dan produsen belum berani menaikan nilai jual meskipun marjin keuntungan terus tertekan. Baru pada tahun 2022, harga komoditas terutama harga energi terus menjulang tinggi sehingga produsen mulai melakukan penyesuaian harga karena kondisi perekonomian terus membaik. Pemerintah juga mulai melakukan penyesuaian untuk beberapa produk seperti minyak goreng dan harga bensin jenis Pertamax. Pemerintah sudah mempersiapkan bantuan langsung tunai untuk membantu kalangan yang membutuhkan. Jika pada saatnya pemerintah terpaksa menaikan harga bensin jenis Pertalite, LPG dan listrik, kami yakin pemerintah akan membantu masyarakat dengan BLT. Cara tersebut kami lihat lebih efektif dan terarah membantu yang membutuhkan dibandingkan melakukan subsidi langsung ke jenis barang sehingga menahan kenaikan harga.

Pada bulan Maret, pemerintah sudah memperbolehkan banyak kegiatan bersama yang diselenggarakan oleh masyarakat. Pemerintah juga memperlonggar persyaratan penerbangan asalkan sudah mendapatkan vaksinasi. Indonesia sudah kembali membuka pintu bagi warga asing ke Bali tanpa melakukan karantina dimana ketentuan tersebut merupakan hal yang ditunggu – tunggu oleh banyak pihak untuk kembali membangkitkan sektor pariwisata Indonesia. Hal yan mendapatkan perhatian besar pada bulan Maret adalah kunjungan Presiden ke ibu kota baru yang diberi nama Nusantara.

Rencana pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) akan memakan waktu yang cukup lama sampai dengan 20 tahun. Kami melihat pemerintah berusaha untuk mencetuskan rencana besar baru yang dapat menyerap modal besar, tenaga kerja dan teknologi. Faktor – faktor tersebut tentu yang seperti kita ketahui adalah pendukung pertumbuhan ekonomi. Memang belum bisa terlihat secara cepat hasilnya ke dalam perekonomian di jangka pendek, namun kami percaya jangka panjang akan dapat memberikan kemakmuran kepada masyarakat yang lebih luas.

Kinerja IHSG yang baik pada Maret 2022 dengan tumbuh 2,7% mom, melanjutkan pertumbuhan 3,9% pada bulan Februari. Kenaikan IHSG merefleksikan pertumbuhan ekonomi yang semakin membaik sejalan dengan pemulihan mobilitas dan permintaan. Secara fundamental, pendapatan dan laba perusahaan terus membaik. Meskipun kami melihat kenaikan bahan baku tidak terelakan, namun kenaikan pendapatan dapat menjadi bantalan bagi perusahaan untuk memulihkan marjin laba. Memang belum semua perusahaan mampu menaikan harga jual, namun menurut kami kuartal kedua dapat menjadi momentum yang tepat karena betepatan dengan turunnya bantuan pemerintah dan momentum menyambut hari raya. Dengan demikian maka kenaikan marjin laba perusahaan akan menjadi amunisi tambahan untuk IHSG melanjutkan rally yang sudah terjadi. Laporan keuangan perusahaan kuartal pertama tahun 2022 yang akan keluar pada bulan April dapat menjadi landasan investor untuk menganalisa pemulihan yang sedang berlangsung.

Kenaikan Fed rate pada bulan Maret akhirnya terjadi dan sesuai dengan harapan pasar. Yield dari US Treasury 2 tahun naik menyesuaikan rencana kenaikan suku bunga acuan, sementara yield dari US Treasury 10 tahun juga ikut naik meskipun tidak sedrastis yield US Treasury 2 tahun. Inilah yang membuat pasar mulai membicarakan inverted yield curve yang selalu dipakai sebagai petanda bahwa resesi ekonomi dapat terjadi 18 sampai 24 bulan ke depan. Meskipun inverted yield curve menjadi sinyal tentang ekonomi yang akan menuju resesi, namun hal tersebut belum tentu akan terjadi bila pemerintah mampu memberikan stimulus ekonomi agar pertumbuhan dapat terjaga. Saat ini, kita masih fokus pada usaha bank sentral dunia mengatasi masalah inflasi agar tidak berkepanjangan sampai merusak pemulihan ekonomi global. Spread antara yield dari US Treasury dan INDOGB menyempit di bawah 450 bps. Meskipun dalam sejarah bukan spread terendah, namun isu inflasi yang akan terjadi di pasar domestik membuat kelas aset obligasi rawan terhadap koreksi. Terlepas dari tantangan inflasi, secara fundamental obligasi di Indonesia masih cukup baik karena nilai tukar yang stabil, CDS yang menurun, fiskal anggaran yang terus membaik dan masih besarnya likuditas di bank sebagai pembeli terbesar obligasi. Kami menaikkan target yield dari INDOGB menjadi 6,50% – 7,00% dari sebelumnya 6,25% – 6,75% yang dilatarbelakangi oleh ketegangan geopolitik dan inflasi yang masih kental.

 

Topic of discussion

  • Semua indikator mengalami kenaikan serentak.
  • PMI Manufacturing dan IKK menurun ditengah tren kenaikan inflasi.
  • Neraca dagang yang besar berlanjut ke bulan Maret seiring penguatan ekspor dan impor
  • Stabilitas keuangan tetap terjaga selama kuartal pertama 2022
  • Penjualan kendaraan kembali menguat banyak.
  • Kesimpulan dan Rekomendasi

 

Rekomendasi Produk

Saham

 

PRODUK 6M PERFORMANCE YTD PERFORMANCE
Saham
MITRA +6,4% +9,9%

 

Untuk membaca hal-hal yang terjadi di bulan Maret 2022 yang mempengaruhi ekonomi secara makro selengkapnya disini:

Baca Selengkapnya

 


Info Lebih Lanjut

Hubungi Mandiri Investasi – (021) 526 3505
Whatsapp Mandiri Investasi – 0816 86 0003
Email Mandiri Investasi – cs@mandiri-investasi.co.id
Mandiri Investasi – www.mandiri-investasi.co.id
Moinves – www.moinves.co.id

 


 

DISCLAIMER

Pendapat yang diungkapkan dalam artikel adalah untuk tujuan informasi umum saja dan tidak dimaksudkan untuk memberikan saran atau rekomendasi khusus untuk individu atau produk keamanan atau investasi tertentu. Ini hanya dimaksudkan untuk memberikan edukasi tentang industri keuangan. Pandangan yang tercermin dalam konten dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan. Seluruh data kinerja dan return investasi yang tertera di artikel ini tidak dapat digunakan sebagai dasar jaminan perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana.

Written by

Willy Gunawan

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *