Monthly Macro Review : Quick response

  • icon-jam1 years ago
  • icon-share
    Shares

Monthly Macro Review : Quick response

Perekonomian di bulan November melanjutkan perkembangan bulan sebelumnya yang mendapatkan momentum positif dari permintaan global akan batubara dan CPO. Kebijakan moneter yang akomodatif melalui pelonggaran standard penyaluran kredit menjadi pendorong perekonomian seperti kredit konsumer dan UMKM. Pemerintah saat ini sedang mempersiapkan kebijakan yang tepat menghadapi akhir tahun agar masyarakat dapat tetap beraktifitas dengan baik dengan protokol kesehatan yang sesuai. Kami melihat perkembangan penanganan pandemi di tanah air sejauh ini dalam parameter yang cukup terkontrol. Meski belum sempurna namun vaksinasi berjalan baik secara umum. Data ekonomi seperti Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), PMI Manufacturing, pertumbuhan kredit, neraca dagang, cadangan devisa dan penjualan kendaraan menunjukan penguatan yang cukup meyakinkan pada bulan November.

 

Overview

 

Perekonomian dunia pada bulan November diwarnai dengan inflasi yang kuat. Inflasi US terus menanjak selama tiga bulan terakhir yaitu 5,4%, 6,2% dan 6,8% masing – masing di September, Oktober dan November. Inflasi di China, Jerman dan Inggris sama – sama mengalami kenaikan. US Treasury, Janet Yellen, menyampaikan bahwa untuk mengkontrol inflasi hal utama yang dilakukan adalah mengatasi Covid-19. Bila masyarakat masih mencemaskan resiko terpapar virus Covid-19 di tempat kerja atau tempat umum, maka masih akan terjadi ekonomi belum akan kembali ke sediakala. US berusaha untuk menyelesaikan masalah supply – chain dari defisit semikonduktor, penumpukan barang di pelabuhan sampai naiknya harga di toko – toko retailer. Penunjukan kembali Jerome Powell untuk melanjutkan posisi gubenur the Fed cukup baik diterima oleh pasar karena meneruskan kebijakan moneter yang sudah ada sehingga tidak menimbulkan ketidakpastian yang baru.

Pada November varian baru Covid-19 yang disebut Omicron mengguncang dunia. Varian ini penyebarannya lebih cepat dibandingkan varian – varian sebelumnya. Banyak kebijakan pemerintahaan di berbagai negara yang merespon dengan cukup cepat termasuk Indonesia dengan menaikan protokol kesehatan. Kebijakan preventif lebih baik dibandingkan harus melakukan lockdown. Setelah menunggu hasil analisa dari para ahli, ternyata varian ini tidak mematikan seperti varian sebelumnya dan dapat dicegah dengan vaksin yang sudah ada. Maka vaksinasi yang dipercepat dan ditambah dengan booster dapat membantu pencegahan terhadap varian ini. Varian omicron ini juga dianggap sebagai varian yang mempercepat pandemi ini lebih cepat selesai karena mempercepat pembentukan antibodi di masyarakat atas Covid-19 dimana sangat cepat menyerang orang dan dengan cepat tubuh membentuk antibody. Menurut kami masyarakat dunia sudah banyak yang mendapatkan vaksinasi dan kekebalan komunal dapat segera tercapai.

Indonesia mencatatkan pertumbuhan GDP 3Q21 di 3,51% yoy, lebih rendah dari 2Q21 di 7,07% yoy dan harapan konsensus di 4,30% yoy. Rendahnya pertumbuhan GDP karena konsumsi yang menjadi komponen terbesar GDP sebanyak 53% hanya tumbuh 1.03% yoy dibandingkan 5,96% pada bulan sebelumnya. Melambatnya pertumbuhan konsumsi disebabkan oleh PPKM yang berlaku selama 3Q21. Pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi di 4Q21 berkisar 5%-6% yoy, yang di-support oleh naiknya konsumsi rumah tangga. Konsumsi yang tinggi didorong oleh PMI manufacturing yang menguat dan naiknya indeks keyakinan konsumen sejalan dengan membaiknya kondisi pandemi domestik. Sementara itu, Indonesia juga kembali mencatatkan surplus transaksi berjalan (Current Account Surplus) pada kuartal 3Q21 mencapai USD 4,5 milyar atau 1,5% dari GDP, lebih tinggi dari Current Account Surplus di kuartal 2Q21 sebesar USD 2,0 milyar atau 0,7% dari GDP. Surplus kali ini merupakan yang terbesar sejak 2009 dimana ekspor jauh melebih impor yang disebabkan oleh naiknya harga komoditas. Secara keseluruhan, Current Account 2021 akan surplus pada kisaran antara 0,1% – 0,5% dari GDP karena surplus neraca dagang diperkirakan akan berlangsung sampai Dec21.

Saham – saham besar banyak yang mengalami koreksi pada bulan November setelah kenaikan cukup banyak sejak bulan Agustus dimana pelonggaran kebijakan PPKM mulai terjadi sampai Oktober dimana permintaan batubara mencapai puncaknya. Isu varian Omicron baru juga ikut memberikan tekanan kepada saham domestik. IHSG terkoreksi 0,87% menjadi 6,533 dan LQ45 juga ikut terkoreksi yaitu sebesar 2,27% menjadi 930. Kami melihat koreksi tersebut cukup sehat di tengah perekonomian yang terus membaik.

Tapering dari the Fed telah dimulai dan yield dari US Treasury 10-tahun bergerak antara 1,4% – 1,6% di bulan November. Kami melihat penunjukan kembali Jerome Powell sebagai gubernur the Fed menjadi indikasi bahwa kebijakan moneter kemungkinan masih sama seperti yang telah dikomunikasikan sebelumnya. The Fed masih melihat resiko dalm perekonomian yang disebabkan oleh variasi virus yang terus bermutasi dan menjadi anacaman pemulihan ekonomi. Dalam catatan dari pertemuan FOMC yang dikeluarkan terlihat bahwa the Fed siap untuk menaikan suku bunga bila inflasi berlanjut menguat.

Namun, kami melihat harga minyak mulai menurun karena pemerintah US mulai menggunakan cadangan minyak agar mengurangi tekanan harga sementara itu harga batu bara jatuh setelah pemerintah China meregulasi harga. Selain itu, harga logisitik melalui biaya kirim melalui laut sudah mulai stabil. Kami melihat tekanan inflasi global dapat mereda di akhir kuartal pertama tahun 2022. Selain dari sisi inflasi, poin penting lainnya adalah tingkat tenaga kerja. Data ekonomi US jobless claim dan tingkat pengangguran semakin membaik, hanya data non-farm payroll saja yang masih belum stabil. Maka dari itu, mengetatkan kebijakan moneter harus dilakukan dengan hati-hati. Dari pasar domestik, kami melihat yield obligasi pemerintah 10-tahun masih stabil di 6,00%-6,30% yang artinya masih dalam range yang kami harapkan. Yield dari tenor menengah ke tenor panjang menurun, sehingga menurut kami yield dari non-benchmark memungkinkna untuk ikut turun. Kami tidak melihat pergerakan yield akan berbalik arah karena investor lokal yang masih sangat supportive terhadap INDOGB.

 

Topic of discussion

 

  • Kenaikan inflasi didorong oleh harga makanan
  • PMI Manufacturing ekspansi selama tiga bulan berturut – turut dan IKK balik seperti sebelum pandemi
  • Neraca dagang masih melenjutkan surplus
  • Kredit perbankan bertumbuh positif secara konsisten dan cadangan devisa masih pada posisi tinggi
  • Penjualan mobil dan motor dalam tren pertumbuhan positif.
  • Kesimpulan dan Rekomendasi

 

Rekomendasi Produk

 

Saham

 

Pendapatan Tetap

 

PRODUK 6M PERFORMANCE YTD PERFORMANCE
Saham
MGSED -1,0% +4,4%
MITRA +1,7% -5,3%
Pendapatan Tetap
MIDU +2,64% +3,76%

 

Untuk membaca hal-hal yang terjadi di bulan November 2021 yang mempengaruhi ekonomi secara makro selengkapnya disini:

Baca Selengkapnya

 


Info lebih lanjut

Hubungi Mandiri Investasi – (021) 526 3505
Mandiri Investasi – www.mandiri-investasi.co.id
Moinves – www.moinves.co.id

 


 

DISCLAIMER

Pendapat yang diungkapkan dalam artikel adalah untuk tujuan informasi umum saja dan tidak dimaksudkan untuk memberikan saran atau rekomendasi khusus untuk individu atau produk keamanan atau investasi tertentu. Ini hanya dimaksudkan untuk memberikan edukasi tentang industri keuangan. Pandangan yang tercermin dalam konten dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan. Seluruh data kinerja dan return investasi yang tertera di artikel ini tidak dapat digunakan sebagai dasar jaminan perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana.

Written by

Willy Gunawan

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *