Quarterly Report : Q1 2021

  • icon-jam10 Mei 2021
  • icon-share
    Shares

Quarterly Report : Q1 2021

Perkembangan Kondisi Ekonomi

 

Tahun 2021 Indonesia masuk era pemulihan ekonomi setelah melewati tahun 2020 yang cukup berat. Kuartal pertama tahun 2021 bukan jalan yang mulus untuk memulai langkah baru dimana konsumsi masyarakat yang cenderung naik ternyata tidak konsisten karena harus menghadapi naiknya jumlah penderita covid-19. Produsen belum berminat untuk memaksimalkan kapasitas produksi di awal tahun. Pemulihan ekonomi dari bulan ke bulan terasa pelan, namun akhirnya di bulan Maret banyak kemajuan yang terjadi seiring dengan kemajuan vaksinasi yang dilangsungkan di berbagai lokasi di Indonesia.

 

01 Januari : Menghidupkan Mesin Perekonomian

 

Dimulai dari Amerika Serikat, pemerintahan baru Joe Biden diharapkan akan membawa perubahan bagi negara dengan perekonomian terbesar di dunia. Setelah dilantik pada bulan Januari, Presiden Biden memilih Janet Yellen sebagai Menteri Keuangan yang baru dalam pemerintahannya. Yellen merupakan mantan gubernur bank sentral Amerika Serikat di tahun 2014-2018 Baik presiden Biden dan Yellen merencanakan untuk memberikan bantuan paket stimulus sebesar USD 1,9 triliun untuk membantu Amerika Serikat pulih dari pandemi yang telah memukul perekonomian negara. Paket tersebut akhirnya disetujui oleh kongres pada bulan Maret dan mulai memberikan dampak positif pada perekonomian. Selain kebijakan fiskal yang agresif, kebijakan moneter yang diterapkan oleh the Fed juga tetap ekspansif. The Fed tidak merubah kebijakan mempertahankan suku bunga acuan rendah dan meneruskan pembelian aset sejak akhir Agustus 2020.

Pada Januari angka pasien covid-19 harian bertambah signifikan, mencapai 13 ribu karena efek dari libur panjang pada akhir tahun. Sehingga pemerintah akhirnya memutuskan untuk memberlakukan sistem pembatasan sosial dengan cara berbeda yaitu melalui PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) sejak Januari. Menurut pemerintah PPKM sifatnya lebih berskala mikro dan sifatnya lebih ke pengaturan kegiatan masyarakat.

Penerapan kebijakan PPKM berimbas pada penurunan ekonomi. Meskipun angka pasien covid-19 berhasil ditekan dan sudah turun ke kisaran 5 ribu saat ini, namun efek perlambatan sudah terjadi dan pertumbuhan GDP Indonesia 2021 mengalami revisi ke bawah. IMF merevisi proyeksi pertumbuhan GDP 2021 dari 6,1% menjadi 4,8% pada bulan Januari dan sekali lagi menjadi 4,3% pada awal bulan April.

Salah satu momentum penting di Januari 2021 adalah peresmian Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau Sovereign Wealth Fund (SWF) oleh Presiden Joko Widodo. LPI ini akan diberi nama Indonesia Investment Authority (INA). Lembaga ini merupakan salah satu bentuk tindak lanjut dari Omnibus Law yang disahkan Oktober 2020 lalu. INA memiliki tugas untuk menangkap peluang investasi dan mencari solusi alternatif bagi pendanaan pembangunan infrastuktur. Total target dana yang diharapkan bisa terkumpul adalah sebesar Rp280 triliun atau USD 20 milyar. Negara yang menjadi potensi sasaran adalah Amerika Serikat, Jepang, Uni Emirat Arab, Arab Saudi dan Kanada.

 

02 Februari : Antusiasme Mendapatkan Vaksinasi

 

Program vaksinasi di Indonesia berjalan sesuai yang direncanakan oleh pemerintah. Vaksinasi tahap pertama telah dimulai sejak pertengahan Januari dan akan berlangsung sampai April 2021 dengan menyasar petugas kesehatan (1,3 juta), petugas publik (17,4) juta, dan penduduk lanjut usia (21,5 juta).

Sementara itu, tahap kedua akan berlangsung dari April 2021 sampai Maret 2022 kepada masyarakat rentan atau masyarakat di daerah dengan resiko penularan tinggi (63,9 juta) dan masyarakatdengan dengan pendekatan kluster (77,4 juta). Dari data-data yang ada menandakan bahwa vaksinasi mengalami kemajuan eksponensial dibandingkan jumlah kasus baru harian. Berdasarkan data Our World in Data, data per akhir Maret sebanyak 2,93% penduduk Indonesia sudah mendapatkan dosis pertama vaksin covid-19 dimana persentase tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk Asia 2,14% namun lebih rendah dari rendah dari penduduk dunia 4,39%. Secara keseluruhan penduduk Indonesia antusias menyambut vaksinasi nasional dan optimisme program vaksinasi berjalan mulus dan semakin meningkat.

 

03 Maret : Perubahan Mulai Terlihat

 

Pada bulan Maret, data perekonomian Indonesia mulai menunjukan banyak perubahan yang positif. Data PMI Manufacturing di bulan Maret naik ke level 53,2 dimana angka tersebut jarang tercapai dan merupakan kenaikan paling tajam pada output dan pesanan baru selama survei satu dekade. Pencapaian tersebut juga diikuti oleh Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang melompat cukup tinggi ke level 93,4 pada Maret dimana vaksinasi yang berjalan cukup baik menjadi pemicu kenaikan tersebut. Data tersebut juga didukung oleh nilai impor yang naik cukup tinggi ke 25,73% yoy dimana sebagian besar dari kenaikan tersebut dipicu oleh impor barang modal berupa baja dan mesin.

Nilai ekspor naik lebih tinggi lagi mencapai 30,47% sehingga membuat neraca perdagangan pada Maret tetap surplus selama 11 bulan terakhir. Selain dari angka makro ekonomi yang terus membaik, data penjualan properti kendaraan dan semen terus meningkat. Perbaikan penjualan tentu berkat pemerintah yang memberikan dukungan kepada berbagai segmen pasar agar mulai bertumbuh. Pembebasan PPnBM ke penjualan mobil dan pembebasan PPN ke sektor properti meningkatan penjualan secara signifikan pada bulan Maret. Kami yakin pemerintah masih akan memberikan sejumlah insentif ke sektor lain seperti sektor edukasi, logistik, pariwisata dan lain-lain.

 

Catatan Peristiwa di Kuartal 1, 2021

 

  • 01 Januari 2021 Pelantikan Presiden AS
  • 02 Januari 2021 Pemberlakuan PPKM
  • 03 Januari 2021 Pembentukan SWF (INA)
  • 04 Januari Februari 2021 Vaksinasi Nasional Dimulai
  • 05 Maret 2021 Pemberlakuan Insentif Pajak

 

Perkembangan Kondisi Pasar Modal di kuartal pertama 2021

 

Pasar Saham

Pergerakan IHSG pada awal Januari cukup cepat dalam dua pekan pertama dan mencapai level 6.435 dari level 5.979 di penutupan tahun lalu. Hal tersebut kemudian berubah dimana investor global melihat pemulihan ekonomi Amerika Serikat akan lebih cepat dari perkiraan sehingga investor lebih memilih untuk memiliki saham di Amerika Serikat dibandingkan kelas aset obligasi (risk on). Indeks saham di Amerika Serikat kembali naik, begitu pula dengan indeks utama global lainnya. Kenaikan dari saham-saham di Amerika Serikat dibarengi oleh pemulihan fundamental dari perusahaan-perusahaan, bahkan melebihi ekspektasi para analis.

Tema re-opening kemudian muncul dan bergulir dengan sangat kencang sehingga membuat indeks di negara maju terus menanjak terutama value stocks yang selama ini belum bergerak karena masih terpengaruhi oleh efek pandemi. IHSG mengikuti pegerakan “re-opening” effect dengan kenaikan 6% pada Februari 2021. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa indeks IHSG masih didominasi oleh value stocks seperti sektor keuangan dan sektor konsumer.

IHSG pada bulan Maret mengalami koreksi sebesar 4,1% mom dimana investor global lebih memilih untuk masuk ke saham-saham di US terutama setelah stimulus ekonomi USD 1,9 triliun disahkan oleh kongres Amerika Serikat, karena investor global memfokuskan pemulihan ekonomi Amerika Serikat. Koreksi tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga terjadi di negara EM dan SEA lainnya. Selain itu, laporan keuangan 4 Q 20 dari emiten-emiten tidak seperti yang diperkirakan karena PATMI (Profit After Tax and Minority Interest atau laba setelah pajak dan pemilik minoritas) dari konstituen IHSG sebanyak 57% yang dibawah ekpektasi konsensus, 31% yang di atas ekpektasi konsensus dan 11% yang sama sesuai harapan konsensus. Maka dari itu, koreksi yang terjadi pada Maret membawa IHSG kembali pada titik awal tahun 2021.

 

Pasar Obligasi

Paket stimulus bantuan ekonomi Amerika Serikat sebesar USD 1,9 triliun banyak merubah rencana investor yang melihat ekonomi Amerika Serikat yang akan segera pulih. Stimulus ini dinilai akan memicu kenaikan inflasi sehingga yield dari US Treasury merambat naik. Selain itu, investor menilai bahwa the Fed akan menaikan suku bunga acuan Fed Rate dan akan memangkas porsi pembelian aset yang saat ini masih USD 120 milyar per bulan. Namun the Fed dalam setiap kesempatan selalu mengatakan bahwa inflasi yang naik hanya bersifat sementara dan terlalu awal untuk membicarakan perubahan kebijakan moneter melihat data ekonomi yang masih belum mencapai harapan the Fed sementara negara Amerika Serikat masih dalam situasi berjuang dalam menghadapi pandemi covid-19. The Fed mengatakan bahwa bank sentral menggunakan pengukuran inflasi berdasarkan average inflation target sehingga inflasi bisa naik melebihi 2%.

Kemudian pada bulan Februari, yield dari US Treasury 10 tahun naik hampir 50 bps menyentuh 1,60%. Investor melihat saatnya untuk risk on dengan menjual US treasury dan masuk ke aset yang lebih berisiko seperti ke kelas aset saham. Sementara yield obligasi pemerintah Indonesia 10 tahun juga ikut naik sekitar 35 bps menjadi 6,6% di Februari 2021. Investor obligasi berharap bank sentral US akan memberikan sinyal apa yang akan dilakukan berikutnya karena tema re opening bergulir dimana mana meskipun masa pandemi belum selesai.

Masuk pada bulan Maret, yield 10 tahun obligasi pemerintah pada bulan Maret masih naik namun tidak sebanyak bulan sebelumnya. Pertemuan the Fed di bulan Maret tidak mengubah kebijakan moneter dengan tetap mempertahankan policy rate di level 0,25% dan melanjutkan pembelian aset USD 120 milyar/bulan. Selain itu, the Fed mengharapkan akan mempertahankan policy rate saat ini sampai akhir 2023. Dari sisi domestik, dikarenakan oleh volatilitas market yang tinggi, pemerintah Indonesia melakukan penyesuaian terhadap strategi pembiayaan dengan memperkecil target pelelangan domestik, menambah penerbitan obligasi global di 1 H 21 karena yield yang dinilai masih cukup rendah optimalisasi 2020 budget yang masih tersisa dan mengandalkan Bank Indonesia sebagai pembeli siaga. Bank Indonesia dan perbankan menjadi pembeli utama dari penjualan yang dilakukan oleh investor asing di bulan Maret.

 

Prospek Pasar Modal di Kuartal Kedua 2021

 

Melihat perkembangan pasar global terutama di Amerika Serikat, investor meyakini bahwa ekonomi akan pulih lebih cepat dari yang diharapkan sebelumnya. Optimisme akan efek “re-opening” membuat harapan akan perusahaan-perusahaan untuk kembali beraktifitas normal kembali menjadi momentum positif. Para investor mencari perusahaan yang akan memiliki dampak positif dari momentum ini, terutama dari value stocks. Para analis saham menaikan asumsi pertumbuhan 1Q21 yang lebih baik dari 4Q20, dan menurut kami masih memungkinkan melihat surprise positif terjadi lagi karena stimulus pemerintah yang besar dan berkelanjutan.

Growth stocks seperti tech stocks yang sudah naik cukup banyak pada tahun 2020, namun relatif stagnan di kuartal satu karena rotasi yang terjadi, diharapkan dapat tetap berkinerja baik karena masih menawarkan potensi pertumbuhan besar jangka panjang yang atraktif di tengah pergeseran pola hidup dan perilaku konsumen yang semakin cepat mengadopsi gaya hidup digital.

Kami melihat volatilitas yield pada US Treasury akan mereda setidaknya pada 2Q21 karena the Fed cukup konsisten dalam mempertahankan kebijakannya meskipun data ekonomi yang terus membaik. Menurut kami, bila the Fed mengubah kebijakan suku bunga dan tapering kembali terjadi saat ini Indonesia lebih siap dibandingkan 2013 karena beberapa alasan. Salah satunya adalah kepemilikan investor asing dalam obligasi pemerintah yang sudah cukup kecil dimana hanya sekitar 24% saat ini dibandingkan 34% pada 2013 sehingga ketergantungan pada investor asing semakin berkurang. Selain itu, neraca berjalan (current account) dan inflasi pada posisi yang cukup baik, sementara cadangan devisa saat ini pada level all time high. Meskipun demikian kami masih melihat yield Indonesia masih atraktif di pasar global sehingga investor global tentu akan kembali bila volatilitas pada pasar obligasi mereda. Pada tahun sebelumnya investor domestik dan global secara bersamaan mulai memiliki pandangan positif terhadap obligasi Indonesia di kuartal kedua mulai dari bulan April setelah penurunan besar di kuartal pertama 2020. Kami berpikir pengalaman tersebut dapat berulang pada tahun ini.

Menurut kami, yield obligasi pemerintah 10 tahun dapat mencapai kisaran 5,75%-6,25% untuk 2021 masih bisa tercapai. Beberapa asumsi ekonomi yang kami gunakan dalam penyusunan target tersebut adalah US Treasury yield berkisar 1,75% CDS 5 tahun yang berkisar antara 90 bps, JIBOR 1 bulan yang relatif stabil di 4,00% spread IDR antara spot dan forward rate 1 bulan pada kisaran 125 bps, BI rate di 4,75% dan Rupiah stabil di Rp14.750 /USD.

Belanja negara akan lebih optimal di kuartal kedua sehingga konsumsi masyarakat diharapkan bisa meningkat. Kami berharap investasi akan lebih ramai pada kuartal kedua karena aktifitas perekonomian perlahan-lahan kembali dibuka seiring dengan vaksinasi yang berjalan dengan cukup baik. Menurut kami, lebaran akan menjadi perhatian banyak pihak apakah Indonesia mampu mengendalikan covid-19 setelah libur panjang. Kami berharap angka penderita covid-19 tidak meningkat tajam setelah lebaran sehingga tidak menjadi permasalahan baru dalam pembenahan ekonomi yang sudah berjalan cukup baik.

Sampai saat ini pegerakan indeks saham di Indonesia masih berada pada kisaran level 6.000 seperti awal tahun karena perbaikan fundamental perusahaan yang masih pelan. Sementara indeks saham di negara maju terlihat lebih menjanjikan sehingga investor global masih fokus terhadap saham-saham di negara maju sambil menunggu perubahan lebih lanjut di negara berkembang. Pandemi di Indonesia mulai terjadi pada Maret 2020 sehingga membuat kinerja perusahaan-perusahaan di Indonesia sangat buruk pada kuartal kedua dan seterusnya. Dengan adanya dukungan kebijakan fiskal dan moneter yang mendukung seperti saat ini, kami percaya kinerja pada kuartal kedua tahun ini akan terlihat lebih baik dari low base tahun lalu. Sementara itu kemajuan yang dicapai di negara maju bisa memiliki efek domino yang besar kepada negara berkembang seperti Indonesia. Kami masih mentargetkan IHSG mencapai range 6.600-6.800 pada tahun ini dengan EPS growth 40%-45% yoy.

 



DISCLAIMER


Pendapat yang diungkapkan dalam artikel adalah untuk tujuan informasi umum saja dan tidak dimaksudkan untuk memberikan saran atau rekomendasi khusus untuk individu atau produk keamanan atau investasi tertentu. Ini hanya dimaksudkan untuk memberikan edukasi tentang industri keuangan. Pandangan yang tercermin dalam konten dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan. Seluruh data kinerja dan return investasi yang tertera di artikel ini tidak dapat digunakan sebagai dasar jaminan perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana.

 

Written by

Willy Gunawan

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *