Monthly Macro Review : Riding the Wave

  • icon-jam3 years ago
  • icon-share
    Shares

Monthly Macro Review : Riding the Wave

inflasi di indonesia

Indonesia memasuki kuartal kedua tahun 2021 di bula April dengan keadaan yang relatif lebih baik. Indonesia mengikuti gelombang vaksinasi yang dilaksanakan pada hampir seluruh negara di dunia. Indonesia juga menikmati optimisme perekonomian dunia dengan naiknya ekpor ke luar negeri yang meningkat. PMI manufacturing dan Indeks Keyakinan Konsumen juga naik signifikan ke level sebelum pandemi. Kami melihat Indonesia mengikuti gelombang pemulihan ekonomi yang terjadi dimana – mana dan hal tersebut menandakan Indonesia layak diperhitungkan sebagai tempat untuk menanamkan investasi. Kami melihat resiko penambahan kasus covid pasca lebaran dan munculnya inflasi. Namun sejauh ini, kami masih melihat gelombang positif yang dapat dimanfaatkan oleh investor dalam proses pemulihan saat ini.

 

Data ekonomi Amerika Serikat memberikan sinyal yang masih belum 100% meyakinkan dimana inflasi April naik banyak mencapai 4,2% melebihi ekspektasi pasar di 3,6%. Angka tersebut tentu jauh lebih tinggi dari inflasi bulan sebelumnya 2,6%. Berbeda halnya dengan data tenaga kerja yang menunjukan tingkat pengangguran kembali naik menjadi 6,1% dari bulan sebelumnya 6,0%. Data non – farm payroll yang diharapkan akan menyerap banyak tenaga kerja sebanyak satu juta ternyata jauh dari hadapan dengan hanya mencapai 266 ribu orang. Selain itu peningkatan kasus covid, naik harga bahan baku yang mempengaruhi supply chain, dan efek low – base menambah deretan issue di Amerika Serikat yang sedang dicermati oleh pasar.

 

Insentif pemerintah Indonesia di sektor perumahan, kendaraan bermotor, belanja online dan lain – lain tentu membawa angin segar yang dibutuhkan setelah kegiatan pulang kampung menyambut lebaran dilarang oleh pemerintah. Kebijakan tersebut terpaksa diambil oleh pemerintah karena kekhawatiran melonjaknya kasus covid setelah perayaan keagamaan seperti yang terjadi di India. Kami melihat kebijakan pemerintah sudah cukup tepat karena keseriusan pemerintah sangat diperlukan untuk menekan angka kasus pandemi agar optimisme yang sudah mulai terbentuk tidak kembali dihambat oleh gelombang pandemi yang baru. Sampai akhir April, terdapat 7,6 juta orang yang mendapatkan vaksinasi penuh (2,8%) sedangkan yang mendapatkan satu dosis sebanyak 12,4 juta (4,6%). Kami berharap agar negara produsen vaksin dapat segera menyelesaikan vaksinasi bagi penduduknya agar distribusi vaksin ke negara lain dapat lebih besar.

 

Berita baik datang dari perusahaan peringkat S&P yang mempertahankan peringkat Indonesia pada level Investment Grade BBB dengan outlook negatif. Melihat kondisi pemulihan saat ini, mempertahankan peringkat adalah yang terbaik yang bisa diharapkan agar Indonesia masih dapat terus bergerak mencari pendanaan untuk pemulihan.

 

Pergerakan IHSG cukup stabil di bulan April dengan level sedikit dibawah 6.000, dimana hampir sama seperti akhir tahun lalu dan bulan Maret. Kami memandang IHSG bisa terjaga karena fundamental ekonomi dan laporan keuangan perusahaan yang terus membaik. Maka dari itu, para investor sedang mengamati apakah perbaikan dapat terus terjadi sekaligus menanti penanganan liburan panjang yang kerap kali meningkatkan angka kasus covid. Indonesia sebentar lagi akan merayakan Ramadan, perayaan keagamaan terbesar di dalam negeri. Hal ini menjadi tantangan terbesar apakah Indonesia mampu mengontrol pandemi yang saat ini sudah berjalan dengan cukup baik. Kami juga mengamati bahwa investor mengalihkan fokus ke aset kelas baru yaitu cryptocurrency yang memberikan keuntungan selama bulan April. Hal itu membuat investor ritel yang selama ini aktif di saham Indonesia ikut berpartisipasi pada kelas aset tersebut.

 

Kelas aset pendapatan tetap kembali berkinerja baik di bulan April setelah melewati perjalanan yang penuh tantangan di kuartal pertama tahun 2021. Yield dari INDOGB 10 tahun turun 30 – 40 bps dan mencapai 6,4% -6,5%. Penurunan yield dari INDOGB terjadi dikarenan yield US Treasury yang cukup stabil di rentang 1,5% – 1,7% meskipun inflasi Amerika Serikat naik ke 2,7% pada bulan Maret.

 

Kami melihat yield US Treasury saat ini sudah memperhitungkan kenaikan suku bunga acuan satu kali. Maka dari itu, meskipun adanya daya inflasi yang naik, yield dari US Treasury selama bulan April tidak banyak berubah. Kami juga melihat pemerintah Indonesia mengubah besaran lelang obligasi negara dengan menurunkan target penerbitan selama yield domestik yang masih tinggi. Di sisi lain, penerbitan surat utang luar negeri ditingkatkan di semester pertama selama yield masih relatif rendah. Langkah pemerintah tersebut membawa yield obligasi turun, dimana kami selalu memiliki pandangan positif terhadap surat utang Indonesia yang masih menawarkan real yield yang atraktif.

 

 

sumber: Berita Satu / Antara

 

 

Inflasi stabil cenderung naik level 1,42% yoy.

Pada bulan April inflasi Indonesia naik 0,13% mom membawa kumulatif inflasi menjadi 0,58% ytd. Pada bulan ini penyumbang inflasi terbesar berasal dari kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau sebesar 0,05. Kemudian diikuti oleh kelompang restoran dan kelompok peralatan rumah tangga. Kami melihat inflasi April masih stabil karena adanya larangan mudik dan subsidi biaya kirim oleh pemerintah pada hari online shopping nasional serta musim panen.

 

Inflasi inti melanjutkan penurunan pada bulan April menjadi 1.18% yoy dari 1,21% yoy di Maret. Inflasi inti adalah perubahan harga barang dan jasa tanpa memperhitungkan komponen energi dan harga bahan makanan. Komponen energi menunjukan kontraksi 0,11% yoy, sedangkan komponen bahan makanan naik 2,62% yoy pada April 2021. Kami melihat pemerintah masih belum akan membiarkan harga bahan bakar untuk naik pada tahun ini, sedangkan harga bahan makanan ada sedikit kenaikan meskipun supply makanan cukup karena adanya musim panen.

 

Indeks Harga Pedagang Besar (WPI) kembali naik di bulan April menjadi 2,31% melampaui inflasi. Sektor industri paling banyak mengambil andil inflasi (0,26%) dibanding sektor pertanian dan pertambangan. Hal tersebut menunjukan bahwa produk industri sudah mulai terlihat kemajuanya seiring dengan PMI Manufacturing yang terus meningkat.

 

 

Nilai ekspor dan impor konsisten tinggi menunjukan pemulihan ekonomi global dan domestik yang terus berlangsung.

 

Ekspor Indonesia di bulan April tercatat USD 18,48 milyar yang artinya hanya naik tipis 0,69% mom dari bulan Maret yang melonjak sangat signifikan 20,24% mom. Sedangkan, bila dilihat dari tahunan angka tersebut naik luar biasa 51,94% yoy pada April setelah kenaikan signifikan juga di bulan Maret 30,47% yoy. Konsistensi ekspor yang baik dari Indonesia menunjukan pemulihan ekonomi global terjadi cukup nyata dan berkelanjutan. Ekspor dari sektor industri yang menyumbangkan porsi terbesar dan berpengaruh besar pada aktifitas ekonomi lainnya di dalam negeri terus mencatatkan angka yang konsisten kuat.

 

 

Begitu pula halnya dengan impor pada bulan April yang mampu mencapai USD 16,29 milyar yang menunjukan kestabilan dengan hanya sedikit menurun secara bulanan 2,98% mom namun secara tahunan mencatatkan kenaikan 29,93% yoy. Pada bulan ini, impor barang konsumsi mengalami kenaikan yang tinggi baik secara bulanan (12,89% mom) maupun tahunan (34,11% yoy), setelah bahan baku naik banyak pada bulan sebelumnya. Naiknya nilai impor barang konsumsi karena belanja masyarakat menjelang lebaran dan naiknya aktifitas ekonomi.

 

 

 

Nilai ekpor yang kuat mendorong surplus neraca perdagangan naik banyak mencapai USD 2,19 milyar atau naik 40% mom dari surplus di bulan Maret. Dengan surplus di bulan April, maka Indonesia sudah mencatatkan 12 bulan surplus berturut – turut.

 

Melihat surplus yang cukup konsisten, maka kemungkinan besar Indonesia akan mencatatkan current account atau transaksi berjalan di level yang tidak lebih rendah dari -2% di 2021.

 

 

 

 

 

M1 dan M2 Bertumbuh namun Terbatas

Pertumbuhan uang beredar sampai pada Februari 2021 masih cukup stabil, namun memasuki Maret 2021 pertumbuhan tersebut mengalami penurunan. Pertumbuhan M2 di Maret 2021 hanya mencapai 6,9% yoy dari kisaran 11% pada bulan – bulan sebelumnya.  Namun, bila melihat dari nominal M2 angka tersebut tidak berkurang banyak dari bulan sebelumnya.

 

Penurunan dalam pertumbuhan karena pandemi yang mulai terjadi di Indonesia pada bulan Maret 2020 sehingga menyebabkan banyak aktifitas ekonomi terhenti sejak saat itu dan likuiditas tidak banyak bergerak sejak saat itu. Selain itu, bedasarkan laporan BI, faktor yang mempengaruhi perlambatan M2 pada Maret 2021 terutama dipengaruhi oleh perlambatan aktiva luar negeri bersih, perlambatan tagihan bersih kepada pemerintah pusat serta penurunan kredit.

 

Pada bulan April, kontraksi pinjaman kredit semakin mendalam menjadi 4,1%. Kami melihat hal ini masih membutuhkan waktu karena aktifitas ekonomi yang baru meningkat beberapa bulan terakhir dan pinjam akan capex belum terjadi secara nyata. Jika permintaan terus meningkat dan produksi sudah mencapai kapasitas maksimal yang sepertinya bisa terjadi di semester kedua, maka pertumbuhan kredit akan terjadi. Kami optimis dengan aktifitas permintaan dan output yang semakin meningkat baik dari dalam maupun dari luar negeri.

 

Suku Bunga Acuan Bertahan Pada April 2021. 

Bank Indonesia mempertahankan policy rate di 3,50% pada April di tengah depresiasi Rupiah sejak Februari 2021 sampai pertengahan April 2021. Kebijakan tersebut dinilai tepat karena Rupiah akhirnya bisa apresiasi sampai pada akhir bulan April. Bank Indonesia berusaha agar likuiditas yang besar saat ini dapat dipergunakan segera oleh masyarakat. Sistem yang digunakan adalah dengan tetap mendorong kebijakan moneter yang ekpansif dengan tetap menjadi pembeli surat utang negara dan menjaga likuiditas agak suku bunga pinjaman turun. Selain itu, Bank Indonesia juga terus mendorong kemudahan dan keamaan dalam penggunaan pembayaran digital dengan pengembangan fitur QRIS (QR Code Indonesia Standard). Transaksi keuangan digital terus tumbuh dengan meningkatnya akseptasi dan preferensi masyarakat untuk berbelanja daring dan meluasnya pembayaran digital.

 

Cadangan devisa pada April naik menjadi USD 138,8 miliar atau naik 1,2% mom. Menurut Bank Indonesia, hal ini disebabkan oleh penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah. Kami melihat kenaikan ini juga didorong oleh ekspor yang meningkat dan perdagangan pasar modal yang relatif tenang dibanding bulan sebelumnya.

 

Penjualan Kendaraan Motor dan Mobil Hampir Kembali Pulih.

Penjualan kendaraan baik motor dan mobil saat ini mendekati rata – rata penjualan sebelum pandemi. Rata – rata penjualan per bulan antara Jan18 – Mar20 untuk motor adalah 535 ribu unit dan untuk mobil adalah 90 ribut unit. Pada bulan April 2021, penjualan mobil mencapai 78,9 ribu unit atau naik 9 kali lipat dari penjualan April 2020 yang hanya berada pada 7,9 ribu unit. Sementara untuk penjualan motor pada Maret 2021 mencapai 521 ribut unit yang kontraksi pertumbuhan menyempit ke 7.2% yoy dari 562 ribu unit pada Maret 2020. Penjualan mobil pada April didorong oleh insentif pajak PPnBM yang diperluas ke penjualan mobil sampai dengan 2.500 cc.

 

 

PMI Manufacturing dan IKK Pada Trend Penguatan.

PMI Manufacturing Indonesia pada April semakin kuat dengan mencapai level 54,6 dari bulan Maret yang sudah berada pada posisi ekspansif di 53,2. Dalam laporan tersebut mencatat bahwa output, permintaan baru dan pembelian semua naik pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya selama periode survei sepuluh tahun. Hal yang menarik dari permintaan baru adalah adanya dorongan bisnis baru dari luar negeri sehingga eskpor kembali bertumbuh untuk pertama kalinya setelah menurun selama 16 bulan.

 

 

 

 

IKK akhirnya kembali ke zona optimis mencapai 101,5 pada bulan April. Ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi seperti ketersediaan lapangan kerja, ekspansi kegiatan usaha dan pendapatan yang meningkat menjadi pendorong optimism tersebut. Dari tiga survei yang dilakukan secara bulanan, survei kondisi ekonomi yang masih belum kembali meskipun terus meningkat.

 

Dari segi pendapatan, porsi konsumsi terus meningkat menjadi 75,5% di bulan April dari 74,4% sebelumnya. Sementara porsi tabungan relatif stabil di 14,8% dan porsi cicilan yang menurun menjadi 9,7% dari 11% sebelumnya.

 

 

Kesimpulan dan Rekomendasi.

 

Indeks global yang bergerak positif pada April dimana stimulus ekonomi sudah mulai didistribusikan. Inflasi di Amerika Serikat yang diekspektasi naik jelas dinanti namun juga disegani karena akan membawa perubahan kebijakan moneter. Kami berpandangan inflasi menunjukan adanya pemulihan pertumbuhan ekonomi sehingga akan berdampak positif pada kelas aset saham. Laporan keungan pada kuartal pertama banyak memperlihatkan kinerja yang baik dari perusahaan teknologi besar, kondisi keuangan yang hampir sama seperti sebelum pandemi. Kami melihat keadaan dimana disruptor companies atau tech – companies yang menghadapi berbagai tantangan seperti sistem perpajakan baru dan perubahan kebijakan the Fed masih akan melanjutkan kinerja baik. Reksa Dana Mandiri Global Sharia Equity Dollar (RD MGSED) dengan underlying asset yang terdiversifikasi ke Amerika, Eropa, Asia dan Australia dapat menjadi pilihan bagi investor.

 

Kami cukup optimis untuk menantikan IHSG kembali bergairah kembali karena valuasi kelas aset yang relatif murah dibarengi keadaan ekonomi yang semakin membaik. Resiko akan datangnya gelombang kasus covid setelah lebaran menjadi perhatian kami. Namun, dengan adanya vaksinasi, ketersediaan ventilator, obat – obatan serta kesadaran penggunaan masker, masyarakat lebih siap menghadapi keadaan. Kami menyarankan investor untuk mulai menempatkan saham sebagai aset kelas yang dipilih dalam keadaan ekonomi yang membaik. Mandiri Investasi memiliki Reksa Dana Mandiri Investa Atraktif (RD MITRA) dan Reksa Dana Mandiri Investa Equity ASEAN 5 plus (RD ASEAN5) untuk bisa dijadikan pilihan bagi para investor.

 

Yield INDOGB mendapat momentum setelah US Treasury yield bergerak stabil. Kami merasa kondisi seperti ini masih bisa bertahan selama kuartal kuartal kedua karena kenaikan yield sudah memperhitungkan kenaikan Fed rate satu kali dan inflasi yang akan terjadi dilihat masih bersifat sementara karena dari low base effect tahun lalu. Keadaan akan berbeda pada kuartal ketiga jika data inflasi dan tenaga kerja di Amerika Serikat lebih meyakinkan. Kami menyarankan investor untuk masuk pada Reksa Dana berdurasi pendek seperti Reksa Dana Mandiri Investa Dana Utama (RD MIDU) yang berdurasi pendek dan dilengkapi dengan fitur pembagian dividen per bulan.

 

 


 

DISCLAIMER

Pendapat yang diungkapkan dalam artikel adalah untuk tujuan informasi umum saja dan tidak dimaksudkan untuk memberikan saran atau rekomendasi khusus untuk individu atau produk keamanan atau investasi tertentu. Ini hanya dimaksudkan untuk memberikan edukasi tentang industri keuangan. Pandangan yang tercermin dalam konten dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan. Seluruh data kinerja dan return investasi yang tertera di artikel ini tidak dapat digunakan sebagai dasar jaminan perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana.

Written by

Willy Gunawan

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *