Market Buzz : Rational Thinking

  • icon-jam13 April 2020
  • icon-share
    Shares

Market Buzz : Rational Thinking

Apakah Indonesia bisa menjadi negara yang jumlah infeksi COVID-19 sebesar Itali atau US?

Kami rasa sudah banyak berita dan artikel yang menulis tentang prediksi tingkat penularan di Indonesia yang seharusnya sudah sangat tinggi dan akan lebih tinggi. Kami ingin menawarkan pemikiran yang lebih positif dan dengan perspektif yang sedikit beda.

Indonesia sering disebut negara bahari dan kepulauan dan kita bangga sejak dulu. Kami merasa Indonesia sebenernya sudah memiliki “natural lockdown” dimana wilayah negara ini tersambung oleh perairan dan bukan daratan seperti di Eropa, China dan US. Kita juga melihat bahwa Pemerintah sangat gigih membangun infrastruktur sehingga Sumatra, Kalimantan, Jawa dan Papua sudah terkoneksi antar kota dalam beberapa tahun terakhir. Namun pergerakan penduduk hanya terjadi aktif di Jawa. Jika demikian, maka yang harus dilihat adalah Jawa terlebih dahulu, khususnya Jakarta. Kami memantau keseriusan Pemerintah melalui Kepolisian dan dan Kementrian dalam menjalanan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Sepertinya pelaksanaannya dirasa relatif baik, karena pada dasarnya manusia memiliki rasa takut akan terkena penyakit tersebut. Sehingga kami berkeyakinan bahwa Pemerintah akan berhasil menekan angka penyebaran penyakit ini.

 

Market akan bereaksi seperti apa kedepannya?

Seperti yang kami utarakan bahwa market tentunya menunggu informasi akan penyebaran penyakit COVID-19 mulai bisa teratasi. Jika hal tersebut teratasi, kami punya keyakinan bahwa investor dapat berpikir rasional kembali dan kemudian berasumsi bahwa saat itulah dasar koreksi atau yang sering kita dengar dengan isitilah “bottom”.

Bila kita melihat suatu negara yang sudah melewati masa puncaknya, China contohnya, pergerakan pasar sahamnya mulai relatif membaik sesuai dengan ekspektasi ke depan bahwa ekonomi dapat kembali pulih walaupun masih terdapat penambahan jumlah kasus baru.

Jika demikian investor mulai menghitung ulang seberapa dalam penurunan instrumen yang mereka miliki. Jika misalnya memiliki saham pada suatu perusahaan A (perusahan dengan fundamental yang baik) dan diprediksi bahwa perusahaan tersebut tidak bisa beraktifitas selama 3 bulan (seperempat tahun), maka kita bisa menganggap bahwa laba perusahaan tersebut bisa turun 25%. Maka jika saham itu sudah jatuh 50% – 60% akibat dampak dari COVID-19 ini, hal tersebut tentunya bisa dianggap kesempatan untuk membeli (time to buy).

Pemikiran lain, mungkin bisa melihat perusahan dengan nilai buku perusahaan atau cash per saham yang sudah lebih murah daripada nilai ekuitasnya sendiri. Dengan demikian, hal ini yang disebut berpikir rasional dalam berinvestasi.

 

Ekonomi akan seperti apa dengan berjalannya waktu?

Kami melihat sebuah ekonomi untuk naik membutuhkan waktu sampai mesinnya “panas”. Kami merasa ekonomi membutuhkan dua sampai 3 kuartal untuk pertumbuhannya kembali normal. Tapi kembali ke ulasan awal, mungkin kami juga melihat segala sesuatu bisa teratasi lebih cepat karena menurut kami usaha Pemerintah dan pemimpin seluruh dunia bergerak dengan sangat cepat dan berskala sangat besar dalam ‘memanaskan’ kembali ekonomi yang terhenti sejenak.

Kami melihat negara maju seperti Amerika Serikat harusnya mampu memimpin perekonomian balik kembali normal karena subsidi atau stimulus Pemerintah AS yang sangat besar. Hal serupa juga dijalankan Pemerintah Australia, Kanada, Jerman, Singapura, dan negara maju lainnya.

 

Jadi investor bisa beli apa jika sudah lebih rasional?

Jika ingin membeli instrumen yang paling terdiskon saat ini maka pilihannya adalah kelas saham. Rata – rata produk Reksa Dana Saham saat ini sudah terdiskon cukup dalam yaitu berkisar antara 30 – 50%. Mohon diingat bahwa besarnya dampak ekonomi saat ini akan mempengaruhi kinerja perusahaan, maka sebaiknya dipertimbangkan untuk masuk secara bertahap (averaging) sambil mengikuti perkembangan market sehingga investor tetap bisa rasional. Kami pun tentu akan menyampaikan informasi market secara berkala. Dalam berinvestasi juga penting untuk melakukan diversifikasi dimana kita tidak melakukan konsentrasi Investasi pada satu tempat (don’t put all eggs in one basket). Saat market volatile, diversifikasi menjadi sangat relevan.

Penurunan market saat ini juga dapat menjadi momentum bagi investor yang memiliki waktu investasi jangka panjang (long term time horizon) untuk masuk ke produk Reksa Dana Saham yang memiliki jangkauan Investasi yang lebih luas dan mengedepankan diversifikasi.

Reksa Dana Saham Mandiri Investasi yang dapat dipertimbangkan dalam kondisi saat ini karena memiliki diversifikasi yang luas diantaranya:

  1. Reksa Dana Mandiri Global Sharia Equity Dollar (RD MGSED): investasi dalam mata uang USD, dimana investor dapat berkesempatan berinvestasi pada saham – saham global. Kami juga bekerja sama dengan JP Morgan Asset Management sebagai technical advisor untuk Reksa Dana MGSED ini.
  1. Reksa Dana Mandiri Investa Equity ASEAN 5 Plus: investasi dalam mata uang Rupiah, dimana investor bukan hanya dapat berinvestasi pada saham-saham dalam negeri, namun juga dapat berkesempatan berinvestasi pada saham-saham global sebesar maksimal 15%.

 

Disclaimer

Dokumen ini hanya bertujuan sebagai informasi. Isi dari dokumen ini tidak dibuat untuk tujuan investasi tertentu, keadaan keuangan, atau kepentingan khusus dari pihak tertentu. Investasi ya ng didiskusikan belum tentu sesuai untuk semua investor. Kinerja masa lalu tidak selalu merupakan indikasi akan kinerja di masa mendatang, nilai, harga, atau pendapatan dari investasi dapat menurun ataupun meningkat. Anda disarankan untuk membuat penilaian secara mandiri terhadap materi – materi yang tercakup dalam dokumen ini.

 

 

Written by

Willy Gunawan

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *